Apresiasi Dari Peraih Nobel Ekonomi

JawaPos.com – Pada 2018 ini, jumlah dana desa yang disalurkan pemerintah Indonesia mencapai Rp 60 triliun untuk 74.957 desa di seluruh Indonesia. Setiap desa rata-rata mendapatkan RP 600 – Rp 800 juta. Jumlah dana desa diperkirakan meningkat tahun depan seiring penambahan alokasi dana desa 2019 yang direncanakan sebesar Rp 73 triliun.

Peraih nobel bidang ekonomi Prof Joseph Stiglitz mengapresiasi model pembangunan wilayah perdesaan di Indonesia dengan menggunakan dana desa sebagai stimulus pembangunan yang dimulai dari desa. ’’Saya sangat mengapresiasi model pembangunan seperti ini. Pembangunan didasarkan pada kebutuhan yang berbeda di setiap daerah. Ini menghasilkan pola pembangunan wilayah yang menakjubkan,’’ ungkap mantan penasihat Presiden Clinton itu dalam Forum Tri Hita Karana (THK) Sustainable Development di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018).

Demikian juga Center for Global Development, sebuah lembaga yang bekerja untuk menurunkan tingkat kemiskinan global mengapresiasi program dana desa karena mampu menciptakan kualitas hidup masyarakat pedesaan yang lebih baik.”Beragam program pembangunan yang fokus pada pertumbuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, air bersih, serta infrastruktur dasar menjadi bagian penting untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat,” tutur Presiden Center for Global Development Masood Ahmed.

Masood menambahkan, pengentasan kemiskinan melalui kebijakan dana desa merupakan bagian penting kontribusi pemerintah Indonesia dalam mewujudkan tujuan pembangunan global dan dunia yang lebih baik.”Pembangunan sarana dan prasarana di pedesaan melalui dana desa adalah langkah nyata mendukung pengentasan kemiskinan yang menjadi tujuan dari Sustainable Development Goals (SDGs),” sebutnya.

Presiden The International Fund for Agricultural Development (IFAD) Gilbert Houngbo menilai program dana desa adalah sebuah transformasi untuk wilayah perdesaan. Dengan model tersebut, semua pihak mandapatkan manfaat. Hal itu sejalan dengan program-program IFAD untuk membangun wilayah perdesaan melalui bidang pertanian.”Kami akan rekomendasikan model Dana Desa ini kepada negara-negara berkembang di seluruh dunia,” tutur Houngbo.

(arm/tih/wir/JPC)

El Benny, Kisah Tragis Maestro Musik Kuba

Jakarta: Mendengar Kuba, nama yang akan terlintas ialah sosok Fidel Castro atau Che Guevara. Tapi, sebelum Castro memenangkan revolusi gerilyanya, Kuba punya sosok heroik di lintasan lain dari dunia musik. Namanya Bartolome Maximiliano Moré, tetapi orang mengenalnya sebagai Benny Moré. 

Di Kuba, Benny More bisa dibilang musisi paling berpengaruh yang pernah dimiliki pulau itu. Orang seperti tak lagi peduli peliknya kehidupan tatkala mendengar Benny bernyanyi. Yang mereka tahu hanya satu: berdansa. Karena itu, semasa hidupnya Benny punya banyak julukan: Master of Rhythm, The Greatest Sonero hingga The Prince of Mambo. 

Pengaruh besar Benny di dunia musik itu menginspirasi sutradara  Jorge Luis Sánchez membuat film berjudul El Benny. Aktor Renny Arozarena didapuk memerankan Benny. 


Poster film El Benny (Foto: ist)

Film El Benny tidak merekam sosok Benny sejak kecil hingga dewasa, tapi lebih banyak berpusat pada lika-liku perjalanan Benny di dunia musik. Film yang ditayangkan pada 2006 ini lebih mencuplik bagaimana pengembaraan Benny di negara-negara Amerika Latin. 

Semasa hidup, Benny More memang tidak hanya terkenal di Kuba, tapi juga di beberapa negara tetangga seperti Meksiko, Kolombia. Benny adalah pimpinan dan vokalis salah satu grup terkenal di Kuba. Talenta musik Benny alami. Dia tidak pernah belajar musik secara formal. Seorang yang dia pekerjakan selalu sigap berada di dekatnya untuk mencatat nada-nada yang baru saja didendangkan Benny ke dalam partitur. Komposisi itu kemudian dimainkan bersama-sama. Begitu biasanya cara Benny dan grup musiknya bekerja. 

Sekembalinya ke Negeri Cerutu pada 1952, Benny coba kembali merengkuh kejayaan di tempat asalnya. Panggung demi panggung kembali dia taklukkan. Periode 1953 hingga 1955, Benny bersama grup musiknya begitu populer sehingga membuat mereka bisa melakoni tur ke beberapa negara, termasuk Amerika. 

Tapi, sebagaimana digambarkan di film ini, Benny bukanlah sosok manusia sempurna. Dia punya gaya hidup serampangan. Dengan pesona yang dimilikinya, Benny bisa dengan mudah meniduri wanita dari satu pesta ke pesta lain. Ditambah lagi dia juga seorang alkoholik. Gaya hidup seperti itu membawa Benny perlahan-lahan menuju kehancuran. Tidak hanya kesehatannya yang terus memburuk, tapi juga kehidupannya yang berakhir tragis. 

Benny yang coba mengubah gaya hidup kemudian kembali tergoda meminum miras yang diberikan penonton di atas panggung. Tak lama kemudian, dia ambruk di panggung lalu dibawa ke rumah sakit. Selang beberapa hari nyawa Benny tak tertolong. Pada 19 Februari 1963, Benny meninggal dunia di Havana. Dia meninggal di usia terbilang muda: 43 tahun. 

Layaknya seorang pahlawan, kematian Benny ditangisi rakyat Kuba. Puluhan tahun setelah kematiannya, Benny masih dikenang sebagai salah satu musisi yang paling otentik dan dicintai rakyat Kuba. 


Patung Benny More di Kuba (Foto: miamiherald)

Sejak ditayangkan pada 2006, film El Benny merengkuh sukses di sejumlah festival seperti Locarno International Film Festival di mana sang pemeran utama, Renny Arozarena meraih penghargaan atas perannya sebagai Benny More. Film ini juga sudah sering diputar di sejumlah negara-negara lain, termasuk dalam ajang Miami International Film Festival pada Maret 2007.

Di Indonesia, film El Benny juga baru saja diputar dalam ajang Latin American Film Screening Series yang digelar sejak 16 Oktober 2018 di Empu Sendok Arts Station (ESAS), Jakarta. Selain El Benny, film Kuba lain yang diputar di ajang ini yaitu, La Edad de La Peseta (The Silly Age), Kangamba, Habanastation, dan Los Dioses Rotos. Dalam rangkaian yang digelar selama lima hari itu, film El Benny diputar pada hari terakhir sekaligus penutup acara.

(ELG)

Sistem Perdagangan Alternatif Meningkat Signifikan

JawaPos.com – Peningkatan signifikan terjadi pada transaksi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA). Hal ini diketahui, beradasarkan hasil pembukuan PT Rifan Financindo Berjangka (RFB).

Chief Business Officer RFB, Teddy Prasetya mengatakan, tahun ini tercatat, transaksi SPA yang berhasil masuk sebesar 846.550 lot. Jumlah ini meningkat 97,36 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 428,936 lot.

Dari seluruh transaksi yang tercatat, 68 persen diantaranya adalah SPA. Ini menjadikan sebgian besa kinerja RFB ditopang dari SPA sepanjang kuartal III tahun berjalan.

“Peningkatannya sangat signifikan. Kita menarget hingga satu juta lot sampai akhir tahun ini,” ujar Chief Business Officer RFB Teddy Prasetya, Minggu (21/10).

Hingga akhir September 2018, total nasabah baru RFB mengalami kenaikan mencapai 27,17 persen menjadi 1.961 nasabah. Ini menjadi tren positif dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 1.542 nasabah.

“Kita berpegang pada kesungguhan untuk membesarkan industri Perdagangan Berjangka Komoditi bersama regulator dan seluruh mitra kerja yang lain. Khususnya rekan-rekan media. Kami akan melaksanakan edukasi yang berkesinambungan agar masyarakat semakin paham potensi dan risiko investasi di perusahaan pialang berjangka.” tandas Teddy.

Hasil yang diperoleh, tak lepas dari kerja keras yang dilakuakn. Perusahaan pialang itu juga selalu memberikan edukasi kepada nasabahnya. Mereka akan meningkatkan Iiterasi terhadap produk investasi derivatif sekaligus memperbesar ukuran industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) seiring minat yang tinggi dari para investor.

(pra/JPC)

Izin dan Lahan Belum Rampung, Bandara Kediri Baru Dibangun Tahun Depan

JawaPos.com – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pembangunan Bandara Kediri baru bisa dimulai tahun depan. Setidaknya, ada dua masalah yang harus diselesaikan pemerintah sebelum bandara terbangun diantaranya izin dan pembebasan lahan.

Budi menyebut masalah perizinan bandara bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan. Namun, Budi tak dapat memprediksi kapan masalah pembebasan lahan Bandara Kediri bisa selesai.

“Pembebasan tanah enggak bisa diprediksi,” ujarnya di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jum’at (19/10).

Diakui Menhub, ada 30 persen lahan yang belum rampung. Adapun, penyebab belum rampungnya pembebasan lahan karena kendala harga. Sehingga, saat ini masih ada negosiasi soal harga lahan. Menurut Budi, hal itu lazim dalam setiap pembebasan lahan pembangunan infrastruktur seperti Bandara Kediri.

“Pembebasan (lahan) belum selesai, 30 persen (yang belum),” kata Budi

Budi menuturkan jika tak ada hambatan yang berarti proses groundbreaking bisa dilakukan paling cepat enam bulan ke depan. Ditambah lagi penyelesaian masalah administrasi tentang tata ruang atau RTRW.

(uji/JPC)