Adrianto Djokosoetono-Ridzi Kramadibrata: Melihat Sisi Lain Persaingan

Aktivis asal India Kailash Satyarthi pernah menulis bahwa tidak ada ruas dalam masyarakat yang bisa menyaingi kekuatan, antusiasme, dan keteguhan hati para pemuda. Satyarthi benar. Karena itulah semangat Sumpah Pemuda seharusnya terus mengilhami Indonesia.

Pads edisi khusus Sumpah Pemuda 2018 hari ini, Jawa Pos mengangkat beberapa cerita tentang para pemuda yang berada dalam gelanggang yang sama, tetapi kebetulan memiliki pandangan, sisi, dan keberpihakan yang berbeda. Walau begitu, mereka sepakat bahwa bangsa InI adalah yang utama. Para pemuda ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Bahwa kita bisa saja berbeda, tetapi tetap satu jua. Indonesia! Artikel kelima, dari Adrianto Djokosoetono dan Ridzi Kramadibrata.

Adrianto Djokosoetono-Ridzi Kramadibrata: Melihat Sisi Lain PersainganDirektur Blue Bird Adrianto Djokosoetono (IMAM HUSEIN/JAWA POS)

Dua ’’nakhoda” perusahaan yang berbeda. Berangkat dari basis yang tidak sama. Tapi, semangatnya sama: memajukan transportasi publik di Indonesia.

”Saya kenal baik dengan Ridzki. Di industri yang bersinggungan, pasti kami lebih sering ketemu. Beliau adalah sosok yang gigih dan kompeten di bidangnya.” Ucapan Direktur PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono tentang figur Ridzki Kramadibrata, managing director Grab Indonesia, itu menunjukkan bahwa ada respek yang dibangun dalam relasi keduanya.

Ya, Grab dan Blue Bird memang secara tidak langsung bersaing untuk memberikan layanan transportasi yang dibutuhkan masyarakat. Ada kompetisi. Termasuk dengan penyedia layanan serupa yang lain.

Tema persaingan yang mengemuka, misalnya, antara layanan digital dan konvensional. Namun, itu bukan fokus utama. Sebaliknya, Adrianto dan Ridzki sepakat menyebut kolaborasi sebagai hal yang perlu digarisbawahi. Juga, mendorong dilakukannya berbagai inovasi.

”Persaingan itu hal yang baik. Dalam memenangi persaingan, dibutuhkan inovasi dan kemampuan untuk membaca apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” kata Ridzki.

Melihat sisi lain dari persaingan, lanjut Ridzki, kolaborasi adalah hal yang sangat penting. Begitu pula halnya dengan operator taksi konvensional. Bahkan, dia menyebutkan, saat kali pertama beroperasi di Indonesia, yang diluncurkan adalah layanan GrabTaxi. ”Sudah menjadi DNA kami untuk berkolaborasi. Di banyak kota di Indonesia, kami meluncurkan layanan bersama taksi juga,” beber pria yang menuntaskan pendidikan MBA dari State University of New York itu.

Adrianto pun memiliki pandangan yang hampir senada. Integrasi dan kolaborasi menjadi salah satu kunci. Itu termasuk upaya merespons perubahan pola market akibat kehadiran penyedia transportasi online. ”Digital dulu kami anggap sebagai tambahan. Ternyata, semakin majunya teknologi itu membuka banyak hal yang sangat perlu dikembangkan,” paparnya.

Andre, sapaan akrabnya, tidak ingin berfokus pada perbedaan online atau konvensional. Seperti Ridzki, dia mengesampingkan penegasan persaingan dan kompetisi.

Sebagai sesama pelaku bisnis di industri transportasi, keduanya justru kerap bertukar pandangan dalam berbagai kesempatan pertemuan. ”Di berbagai kesempatan pertemuan itu kan kita pasti pernah berdiskusi. Tentang apa sih point of view yang mereka yakini. Dengan understanding itu, kita bukan mengedepankan perbedaan. Tapi, mindset apa yang ingin dicapai,” tutur penyandang gelar MBA dari Bentley University tersebut.

Ridzki dan Andre memiliki harapan yang kurang lebih sama terkait perkembangan sektor transportasi tanah air. Salah satunya, dukungan pemerintah. Pemerintah dianggap memiliki peran penting dalam memecahkan masalah transportasi publik. ”Untuk bisa mencapai pelayanan yang terbaik untuk angkutan umum itu, memang harus ada keberpihakan atau pemerintah. Jadi, kami berharap policy yang itu terus dikembangkan dan tetap secara principal dikedepankan pemerintah,” kata Andre.

Di sisi lain, Ridzki menyebutkan bahwa dalam pemanfaatan teknologi tidak ada batasnya. Teknologi akan mempermudah siapa saja untuk menyelesaikan masalah transportasi publik. ”Mungkin saat ini orang memikirkannya masih terkotak-kotak. MRT sendiri, bus sendiri, kereta sendiri, pesawat sendiri. In the end, itu semua akan terintegrasi karena teknologi,” jelasnya.

Adrianto Djokosoetono-Ridzi Kramadibrata: Melihat Sisi Lain PersainganManaging Director Grab Indonesia Ridzi Kramadibrata (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Indonesia Butuh Inovasi Anak Muda

Dalam dunia bisnis, Ridzki dan Andre percaya bahwa anak muda punya peran yang sangat penting. Lebih dari sekadar ungkapan pemuda sebagai agen perubahan. Buktinya, dengan kendaraan bernama teknologi, semakin banyak ide bisnis start-up yang bermunculan dari anak muda.

Yang perlu diperhatikan, anak muda harus tepat menentukan masalah yang akan diberi solusi melalui bisnisnya. ”Harus sangat klir. Clear on what problem is being solved,” tegas Ridzki.

Dia mengatakan bahwa Indonesia sangat luas. Anak muda tidak harus berpikir memulai bisnis dengan menyasar market kota besar seperti Jakarta. Sebagaimana layaknya strategi yang dijalankan Grab yang mereka sebut hyperlocal. Anak muda bisa melihat peluang yang ada di dekat mereka.

Setiap kota memiliki karakter yang spesifik. Masing-masing membutuhkan solusi tersendiri dari masalah yang ada. Dengan memahami kebutuhan hyperlocal tersebut, pelaku bisnis akan bisa memberikan servis yang relevan.

Langkah berikutnya adalah berfokus pada kepuasan pelanggan. Sebab, apa pun inovasi dan ekspansi yang dilakukan suatu bisnis harus tetap mengacu pada kepuasan customer. Kepuasan pelanggan harus menjadi indikator yang selalu dimonitor. ”Jangan sampai suatu produk itu diluncurkan, tapi kepuasan pelanggannya jauh. Tentu akan ditinggalkan pelanggan,” tambahnya.

Sementara itu, Andre menegaskan bahwa anak muda yang ingin memulai bisnis tidak boleh mudah menyerah. ”Saya tahu dan bisa membayangkan bagaimana sulitnya menetaskan dan membawa dari ide ke tahap pertama implementasi. Tapi, jangan pernah menyerah,” tegasnya.

Menurut Andre, Indonesia sedang membutuhkan banyak sekali manuver atau inovasi dari anak muda. Baik dari sisi skill maupun produk. Anak muda harus lebih berani untuk mengambil tindakan dan cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan. ’’Berharap lebih banyak pengusaha muda yang terus secara gigih mengembangkan usaha-usaha baru,’’ tandasnya.

(agf/c7/fal)